Sejarah musik korea

Sejarah Musik Monday, 30/Apr/2012 10:25 0 - 7
Dinasti Joseon (1392-1910)
Lukisan "anak penari", karya Kim Hong-do, Dinasti Joseon.

Musik pada masa Dinasti Joseon dibagi menjadi 2 jenis, yakni musik istana (jeong-ak) dan musik rakyat (minsok-ak).[3] Rakyat kelas atas dan istana mendengarkan musik istana, yang terdiri dari musik Cina (dang-ak), musik asli Korea (hyang-ak) dan musik ritual Konfusianisme (a-ak).[3]

Periode terpenting bagi bidang musik pada masa Dinasti Joseon adalah masa pemerintahan Raja Sejong yang Agung (1418-1450).[6] Kontribusi Raja Sejong terhadap perkembangan musik Korea dianggap monumental seperti prestasinya dalam bidang politik dan ilmu pengetahuan.[6] Ia mengembangkan sebuah pipa bambu yang dinamakan yulgwan untuk menandai pola titinada musik Korea, mendesain ulang alat musik, menciptakan musik baru dan menciptakan jeongganbo, sistem notasi musik pertama di Asia Timur.[6]

Pada akhir periode Dinasti Joseon, popularitas musik istana semakin menurun, sementara itu musik rakyat dan drama tradisional seperti pansori dan changgeuk, berkembang pesat.[3][4] Musik rakyat mulai diwariskan dari generasi ke generasi.[4] Seni suara yang didasarkan dari lirik penyair terkenal seperti Kim Cheon-taek dan Kim Su-jang mulai populer di antara kaum bangsawan terpelajar.[4]

Musik religius seperti musik agama Buddha dan Shamanisme juga semakin memengaruhi genre musik rakyat Korea pada masa ini.[4] Musik agama Buddha mengalami kebangkitan, antara lain dengan populernya permainan nomor musik yeongsan hoesang, musik religius yang terinspirasi dari peristiwa khotbah Buddha di gunung Gridhrakuta di India.[3] Bentuk syair yang berasal dari zaman Dinasti Goryeo, sijo, semakin digemari.[4] Sijo adalah syair pendek yang dilantunkan bersama permainan alat musik.[4]
Korea Utara dan Korea Selatan

Karena Korea telah terbagi lebih dari setengah abad, musik tradisional yang diwariskan antara kedua negara telah menjadi cukup berbeda.[1] Musisi Korea Selatan meyakini musik harus melampaui batas politik dan mencapai kemurnian yang tidak menyampaikan pesan propaganda.[1] Musisi Korea Utara pun berpendapat bahwa musik harus melampaui politik namun untuk tujuan yang berbeda.[1] Walaupun memiliki pandangan yang hampir sama mengenai musik, tujuan dan metode yang mereka kembangkan tidak sama.[1]

Di Korea Utara, tidak ada istilah guk-ak (musik tradisional) dan jeon-tong eum-ak juga tak pernah digunakan.[1] Jenis-jenis musik tradisional yang dikenal di Korea Selatan seperti jeong-ak (musik istana), pansori (opera tradisional), musik rakyat dan sanjo (permainan musik solo) tidak dikenal di Korea Utara.[1] Jenis musik tradisional yang dipentaskan di Korea Utara hanya minyo atau nyanyian rakyat.[1] Namun, minyo di Korea Utara tidak dinyanyikan dengan gaya tradisional, melainkan dengan gaya modifikasi yang diiringi aransemen permainan alat musik tradisional yang direvisi dan musik barat.[1]

Semua alat musik tradisional kecuali alat musik perkusi telah mengalami rekonstruksi.[1] Kim Il-sung dalam "Karya-karya pilihan Kim Il-sung, Volume 4, Halaman 154" menuliskan[1]:
“ Dalam upaya untuk memodernisasikan musik kita, kita harus mempertimbangkan untuk memodifikasi alat musik yang tersedia. Tidaklah mungkin untuk memodernisasikan musik nasional kita dengan alat musik Korea yang kuno, atau cukup mengekspresikan etos pekerja negara kita. ”

Pernyataan Kim Il-sung ini merupakan awal dari modifikasi alat musik di Korea Utara.[1] Semua alat musik disesuaikan dengan skala musik barat, dan skala 7 not dimodifikasi agar mudah untuk dimainkan.[1] Orang Korea Utara menganggap suara "kasar" alat musik tradisional sebagai suara yang "kotor", sehingga mereka membersihkannya dan membuatnya jelas.[1] Mereka juga memperluas jangkauan alat musik tradisional, sehingga satu jenis alat musik dapat memainkan jenis musik yang berbeda-beda.
0

didan febriansyah
  • City: bekasi
  • Posts: 17
  • Uploads: 0
  • Scores: 1

Tulis Komentar

.: Belum ada komentar :.

0.002s
ShoutBox